Home
Ekonomi Syari’ah: Menimbang Peran Ekonomi Islam Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Ekonomi Syari’ah: Menimbang Peran Ekonomi Islam Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Penulis: Baiq Nurmanita Irmayuni Anwar

Mahasiswi Prodi Ekonomi Syari’ah, Fakultas Syari’ah, IAI Hamzanwadi NW Pancor dan aktif di UKM KKES

Ekonomi Islam menganut prinsip syari’ah yang bersifat komprehensif. Namun, syariah ini bukan hanya komprehensif, tetapi juga universal. Komprehensif berarti syari’ah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Adapun universal bermakna syari’ah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai hari Akhir.

Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan antara Muslim dan Non-muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali: “Dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita”.

Ekonomi Islam, dalam menjalankan perannya pada perekonomian menerapkan prinsip maqashid syari’ah. Sebagaimana dirumuskan oleh para ulama Islam, ekonomi Islam hadir ditengah masyarakat dalam rangka melindungi jiwa, akal, keturunan, agama serta harta manusia. Prinsip-prinsip maqashid syari’ah merupakan sumber kesejahteraan yang sebenarnya serta sejalan dengan program-program kesejahteraan sosial dan kebijakan ekonomi pembangunan yang dijalankan pemerintah saat ini.

Sejarah telah mengukir bahwa keberhasilan sistem ekonomi Islam dengan penerapan instrumen yang ada seperti zakat, infak, shadaqah dan wakaf serta jenis pendapatan lainnya.

Pada pemerintahan awal yang dibangun Rasulullah SAW, di Madinah mampu menciptakan suatu aktivitas perekonomian yang membawa kemakmuran dan keluasan pengaruh pada masa itu. Kegiatan ekonomi telah menjadi sarana pencapaian kesejahteraan atau kemakmuran.

Nabi Muhammad SAW, memperkenalkan sistem ekonomi Islam. Hal ini berawal dari kerja sama antara kaum Muhajirin dan Anshar. Sistem ekonomi Islam yang diperkenalkan, antara lain, syirkah, qirad, dan khiyar dalam perdagangan. Selain itu, juga diperkenalkan sistem musaqah, mukhabarah, dan muzara’ah dalam bidang pertanian dan perkebunan. Para sahabat juga melakukan perdagangan dengan penuh kejujuran. Mereka tidak mengurangi timbangan dalam berdagang. Masa Kekhalifahan kedua dalam kepemimpinan Islam Umar bin Khattab juga telah membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam mampu menciptakan kesejahteraan.

Pada masa ini angka kemiskinan berhasil ditekan sehingga sangat sulit menjumpai orang yang berhak menerima zakat. Sistem ekonomi Islam dan kesejahteraan dalam tulisan ini hadir mencari celah kemungkinan untuk mewujudkan kembali kesejahteraan masyarakat dengan pengaplikasian sistem ekonomi Islam dengan optimalisasi instrumen ekonomi Islam. Kita akan segera mengetahui bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, kesenjangan serta kecemburuan sosial dapat diredam. Sistem ekonomi Islam akan membimbing masyarakat dan dunia menuju kemakmuran (حياةطيبة ) dunia dan akhirat.

Leave a Comment

*

*